labirin putih

tentang sebuah pencarian, penemuan, juga pilihan

12.7.07

www.suraloka.blogspot.com

29.4.07

Masih Saja Salah Bersikap
.
Selalu saja bingung menghadapi situasi seperti ini. Makan enak hari itu saya. Semangkuk soto ayam ditambah sepiring nasi, bersama seorang teman hidup pula. Pembicaran dan kunyahan makanan berhenti sesaat seorang anak kecil datang pada kami. Tanpa bicara apapun, menengadah tangan pada saya. Tak punya uang saya, pikir. Makan pun kali itu dibayar oleh teman saya. Ada ga, lo? Tanya saya pada sang teman. Dia mengeluarkan beberapa keping uang dan memberikannya.
.
Makan berlanjut obrolan pun mengalir lagi.
Selang sepuluh menit saya rasa, anak itu datang lagi pada kami, diam lagi dan menengadah lagi. Saya melotot, dan bilang, hah? Tak puas bilang hah, saya lalu bilang, mau jadi preman apa dia? Bilang sama teman saya. Lalu anak kecil itu pergi dari kami. Saya masih lanjutkan dengan gerutuan pada sang teman. Lalu dia bilang ya ga usah gitu, lah. Saya bilang sama dia, ada saatnya diam saja, ada saatnya mendidik. Tadi saatnya mendidik. Keras kepala. Jeda sesaat, kepala saya lalu lunak bahkan meleleh saat teman saya bilang, kalau mendidik, bicaranya lihat dia, dong jangan lihat saya. Tadi kamu bicara padanya lihat saya bukan lihat dia.
.
Hup.
.
Bisu.
.
Lalu saya membayangkan semestinya saya ajak dia bicara baik-baik seperti pada anak saya sendiri, bilang apa yang ingin saya sampaikan. Kalau perlu ajak dia makan dan duduk sebelah saya.
.
Iya, saya salah.
.
Selain salah. Saya masih juga bingung. Dari dulu sampai sekarang kebingungan saya ini belum juga bisa terjawab. Selalu bingung menghadapi situasi dekat seperti ini. Ah, saya malas juga jadi seorang orang bodoh tak punya hati yang hanya bisa baca di kamar, sementara ketika ketemu objek bacaan saya secara dekat, bersikap pun masih bingung.
.
Saya selalu merasa ini masalah struktural yang hanya mampu diselesaikan secara struktur pula. Saya belum ada di struktur. Iya, lo enak, makan dan ongkang-ongkang kaki baca buku, luntang lantung ke perpustakaan dan toko buku. Hah, pusing.
.
Jatinangor, 27 April 2007

13.4.07

Kisah Mengenai Si Keras Kepala
.
saya punya seorang kawan, sebut saja namanya si keras kepala. belakangan ia sedang dekat dengan seorang gadis. saya kadang dapat juga kisah menarik sekeliling kedekatan mereka. suatu hari si gadis tak enak badan. si keras kepala malam itu mampir di kosan saya dan tampak galau sekali. si gadis sakit, katanya. trus kamu mau apa lanjut saya. rupanya si keras kepala dalam kegelisahannya itu sedang menunggu kabar si gadis. jika mungkin, si keras kepala hendak mampir barang sebentar ke kosan si gadis dan memberikan sesuatu. kamu tahu apa? si keras kepala membawa obat penurun panas yang terbuat dari cacing. ia percaya sekali pada obat cacing sepercaya pramoedya pada norit. belakangan saya tahu ternyata obat cacing yang ia siapkan untuk si gadis merupakan hasil pembelian boleh pinjam dari seorang kawan. betapa romantisnya, kamu si keras kepala.
.
cerita menarik lain, si gadis hendak pulang ke jakarta. sebagai seorang pria lembut, si keras kepala mengantarkan hingga si gadis naik bus antar kota. catatan, si keras kepala bercerita pada saya beberapa hari setelah kejadian perkara. si gadis rupanya melakukan sebuah tindakan yang tak diduga sama sekali oleh si keras kepala. dia mencium tangan si keras kepala sebelum ia masuk bus. si keras kepala bercerita pada saya dengan wajah berseri. mendengarnya, saya ikutan tersenyum. tapi sebentar saja, senyum turut berbahagia saya itu tergantikan oleh kecurigaan. memang kenapa, si keras kepala kamu bahagia sekali ketika dia mencium tanganmu? jangan-jangan kebahagian kamu itu muncul karena cium tangan merupakan sebuah tradisi penghargaan pada orang yang dianggap lebih tinggi kelasnya? berarti kebahagiaan mu ini merupakan kebahagiaan atas ketundukan seseorang atasmu. haha, lalu apa bedanya kamu dengan orang-orang keraton yang kerjanya ongkang-ongkang kaki itu katamu. kerja hegemoni seolah serat-serat halus yang kerap kali tak disadari. bahaya, bukan?
.
nah, ini cerita penutup tentang si keras kepala yang baik hati. makan malam tadi saya bertemu di sebuah warung pecel lele, pecel ayam dan pecel telur, dia tersenyum saja duluan pada saya. rupanya dia sadar duluan atas pertemuan kami ini. cerita punya cerita, si gadis hendak mencium tangan si keras kepala untuk kedua kalinya. wah, seru saya. tapi langsung gue tolak mit, gue langsung inget muka lo yang bertanduk. yah, si keras kepala kemudian menjelma menjadi tukang bakso di kepala saya. ia seperti tukang bakso yang punya gagasan tentang ramuan semangkuk bakso yang lezat dan mulai the mera of the cik gagasannya itu, mencicipnya, dan mengubah beberapa bumbu yang ia rasa kurang dan ia rasa lebih. Tara.. semangkuk bakso lezat siap dijual.
.
jatinangor, 12 april 2007
warnet imago bilik 14, di samping bilik si keras kepala.

11.4.07

Mengapa Saya Tak Bahagia?
.
Suatu hari kemarin saya mengunjungi seorang kawan baik. Kami kenal sejak semester satu perkuliahan. Pada semester tiga Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad melakukan penjurusan. Kami berdua sama-sama memilih jurnalistik sebagai pelabuhan terakhir jenjang S1 kami. Ya, hingga semester delapan sekarang, kami masih saja satu lingkungan. Ika nama kawan saya itu. Ia seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan kental. Hampir empat tahun ini, saya dan dia sering tergabung dalam satu kelompok tugas kuliah yang sama. Hari itu, sehabis wawancara demi liputan job training, saya datang pada kamar kontrakannya.
.
Pada kuliah kami terdapat mata kuliah Job Training Media Massa. Job training adalah praktek lapangan mahasiswa jurnalistik pada perusahaan media massa. Bukan hanya satu kali, melainkan dua kali kami harus melewatinya. Yang pertama pada media massa cetak yang kedua elektronik. Masing-masing memiliki beban tiga SKS.
.
Saya lelah sekali satu bulan ke belakang lantaran mengikuti job training pada sebuah perusahaan suratkabar harian di Bandung. Benar, saya tak bisa bohong, saya benar-benar lelah. Bukan, jika kau menebak alasan lelah saya itu karena saya 'diospek' oleh sang wartawan. Bukan itu jawab saya. Saya merasa lelah mental daripada lelah fisik. Jadwal liputan saya tergolong longgar. Mulai dari koordinator liputan, redaktur hingga kawan-kawan wartawan pun berlaku baik pada saya.
.
Ika sedang membuat laporan job training-nya ketika saya datang. Kami lalu terlibat pembicaraan mengenai pengalaman kami masing-masing seputar job training.
.
''gue gak tahu, Ka gue gak bahagia aja'' cerita saya padanya.
.
Saya terkaget-kaget ketika mengalami kondisi lapangan kerja yang begitu berbeda dengan apa yang saya pelajari di kampus. Seorang dosen bercerita pada kami jangan sampai melakukan wawancara dengan kepala yang kosong. Sebelum tiba saatnya wawancara, mengumpulkan informasi mengenai materi dan memelajarinya merupakan sesuatu yang tak bisa ditolak. Namun apa lacur, pada job training saya menemukan bahwa pada kondisi tertentu, wartawan sangat mungkin wawancara dengan kepala yang kosong. Saya jadi teringat, selesai meliput sebuah demonstrasi, saya dapat kabar harus ke RRI Bandung untuk datang pada pers konferensi. Mengenai apa, wartawan saya hanya bilang 'budaya'. Baiklah jenderal, saya datang saja. Soal pertanyaan, itu nanti urusan di depan. Apa pula yang bisa saya lakukan dalam perjalanan menuju RRI demi mengisi kepala saya dengan pengetahuan mengenai budaya.
.
Ika pun bercerita pengalamannya. Ia sepakat kampus memang mengajarkan sesuatu yang ideal. Di lapangan lain lagi. Bahkan wartawan surat kabar kelas nasional pun bisa melakukan kloning berita.
.
Saya terus saja menganalisa diri saya. Sebenarnya apa yang salah, kenapa saya tak bahagia. Sementara saya masih ingat betul artikel pertama saya yang dimuat di koran saya tulis ketika saya masih semester tiga. Tak bermaksud besar kepala, saya hanya mengukur, sepertinya saya tak pernah merasa kesulitan dalam mata kuliah praktik. Saya merasa ketidakbahagiaan saya bukan karena saya tidak bisa.
.
Saat paling membahagiakan adalah justru ketika tugas kuliah saya mengharuskan saya memilih topik liputan, membuat perencanaa, turun ke lapangan, dan menuliskan laporan. Saya ingat betul saat menempuh mata kuliah penulisan feature media massa cetak, bagaimana bergairahnya hidup ketika saya punya ide untuk menulis sosok Koesalah Soebagyo Toer. Laporan itu lalu saya kerjakan dengan sepenuh hati. Saya juga teringat ketika saya tahu keluarga saya memiliki riwayat sakit jiwa skizofrenia, saya mulai tertarik dan akhirnya untuk tugas akhir mata kuliah depht reporting, saya memilih melakukan penggalian tentang penyakit tersebut.
.
Pikir punya pikir, saya kemudian teringat oleh penggalan kalimat Gabriel Garcia Marquest, ''jurnalisme bukan pekerjaan, tetapi kelenjar''. Aha, mungkin kalimat ini yang menjadi ujung pangkal masalah saya. Saya pikir, kata-kata Marquest lebih bisa dimengerti jika kita mengetahui kedua definisi dari kata 'kerja' terlebih dahulu. Dalam bahasa inggris, 'kerja' dapat diartikan menjadi 'work' dan 'labour'.
.
Kalimat 'jurnalisme bukan pekerjaan' saya pikir mengacu pada definisi kerja 'labour'. Pada labour, subjek kerja dan objek kerja yang dihasilkan merupakan sesuatu yang terpisah. Keterpisahannya merupakan penyebab keterasingan. Si pekerja tak tahu untuk apa dia kerja. Curahan kerja yang dia berikan untuk objek kerja bukan lagi miliknya dan bukan mencerminkan dirinya. Ya, seperti itulah yang terjadi pada saya. Apa yang saya kerjakan bukan bagian dari diri saya lagi ketika sejak awal kerja, liputan itu memang diproyeksikan untuk diperbanyak dengan mesih cetak dan dilempar ke pasar.
.
Sementara kalimat 'jurnalisme merupakan kelenjar' saya pikir mengacu pada definisi kerja 'work'. Berkebalikan dengan labour, objek kerja yang dihasilkan merupakan bagian diri yang integral. Seperti kelenjar pada tubuh. Ya, menyatu. Ini mungkin yang saya rasakan ketika saya menggarap liputan tentang Pak Koes dan Skizofrenia. Objek kerja saya merupakan refleksi diri saya. Bukan sesuatu yang terpisah.
.
Saya jadi ingat, saya merasa setengah hati betul dalam mengerjakan setiap laporan liputan job training. Saya selalu tak puas, pulang dalam kondisi tak bahagia dan si keras kepala bilang muka saya cemberut. Apalagi di tengah-tengah kegelisahan saya kemarin, saya sempat pula menonton 'Modern Time' boleh pinjam dari Batu Api.
.
Sebut saja saya borjuis kecil yang baru mengalami jadi proletar, tapi saya merasa beruntung atas ketidakbahagiaan yang saya alami di waktu lalu. Bagi saya, pengalaman kemarin merupakan pembelajaran yang sesungguhnya. Begitulah mahalnya harga yang harus dibayar demi kesadaran. Tetap saja tak semahal tetangga jauh saya yang kerja di pabrik pengap dan menanti-nanti saat bergurau dengan kawan.
.
Jatinangor, 11 April 2007

walau uang yang ada di kocek sedikit
walau akses masuk ke blogger teramat lama
saya sempatkan untuk menulis beberapa baris
.
senang rasanya bisa menulis kembali
sudah lama saya rindu betul menulis
membaca dan berpikir
.
saya rindu bekerja. bukan bekerja.*
.
setelah banyak diskusi,
menjalani magang,
merenungi kondisi materil,
dan menonton film paling menyedihkan,
Modern Time
.
sekarang, rasanya seperti benar-benar punya sayap.
.

*saya rindu 'work'. bukan 'labour'.

12.2.07

:sebuah tulisan yang saya buat sudah lama. jika banyak orang sibuk bercinta dengan pasangannya menjelang 14 februari, saya memilih untuk posting tulisan ini saja. selalu manis untuk dikenang.

Suapan Besar-besar

.
Malam ini genap sudah setahun harapan itu pernah singgah dalam hati. Kemarin aku datang dengan kereta argo gede terpagi, turun dan berlari kencang ke tempat ia berbaring. Baru saja lewat masa kritisnya. Malam sebelumnya kabar bahwa aku harus ke Jakarta datang pada 22:11:09. Seberapa parahnyakah ia? Aku datang dan ia melihat ke arah suaraku datang dengan mata sedikit terbuka, berkata setelah membisu beberapa hari, ''anak sayang..''
.

Manusia kuat. Tetap manusia.

................................................................................................................................................

10.09.2003-18:50

telah berpulang ke rumah Bapa dalam damai, ayahku tercinta. Terimakasih atas semua bantuan moril maupun materiilnya.

Messages sent.

................................................................................................................................................

aku paling suka telur ceplok buatannya. Sewaktu aku sakit, tengah malam ia selalu menengokku untuk sekadar memeriksa apakah pakaian yang kukenakan dalam keadaan basah. Jika ya, ia akan segera membawakan salin dan membangunkanku untuk berganti pakaian. Setelah itu,ia akan menawariku makan. Lauknya selalu telur ceplok buatannya sendiri, bersih karena pakai minyak baru dan ditambah kecap. Ia suapi aku dengan suapan besar-besar. Kadang aku protes, kadang aku menikmatinya.

Setelah keadaannya berbalik, ia yang protes atau kadang menikmati suapan besar-besarku.

.

Bapak sayang, maafkan aku karena aku hanya bisa menyanyi menghiburmu saat engkau minta dibantu duduk namun engkau sendiri tidak kuat menahan rasa sakit ketika engkau menggerakkan kakimu.

.

''Apa yang kau alami kini

mungkin tak dapat engkau mengerti,

satu hal tanamkan di hati

indah semua yang Tuhan bri.

.

Tuhanmu tak akan memberi

ular beracun pada yang minta roti.

Cobaan yang engkau alami

tak melebihi kekuatanmu

.

Tangan Tuhan sedang merenda

suatu karya yang agung mulia

saatnya kan tiba nanti

kau lihat pelangi kasihNya.''

.

~Dibuat untuk mengenang beliau dengan segala hormat dan cintaku anusi sersuki ruang rawat inap.awat inap. g dengan mata sedikit terbuka, berkata,"berbaring. auh lebihbaik. ~


10.2.07

9 Naga
*
Segala perenungan ini bermula dari sebuah pesan pendek beralamat seorang kawan jauh yang manis, Dony Nurpatria. Ia adalah putra sahabat bapak saya. Dony mengirim sebuah penggalan kalimat yang diambil dari film karya Rudi Soedjarwo berjudul 9 Naga.
*
''tempat ini terlalu basah untuk ditambah air mata
dan terlalu sempit untuk diisi penyesalan, sudah nonton 9 Naga?''
*
Pesan pendek itu sudah sejak lama saya terima, bahkan kini telah tak ada lagi pada inbox ponsel saya. Telah tergantikan oleh banyak pesan pendek dari kawan yang lain. Namun yang menjadikan pesan pendek Dony masih saja tertinggal dalam hati adalah momen yang tengah terjadi pada saat saya menerimanya. Kala itu cinta yang saya miliki baru saja hancur. Sepanjang waktu air mata tak henti-hentinya mengaliri wajah saya. pesan pendek Dony merupakan salah satu penguat hati saya untuk bangkit lagi dari keterpurukan. Film 9 Naga memang belum saya tonton saat itu, bahkan hingga banyak hari berikutnya.
*
Sore tadi sembari menunggu penjual nasi goreng memasak nasi goreng ikan asin pesanan saya, kaki ini akhirnya melangkah menuju sebuah rental vcd tak jauh. Belakangan hari memang dorongan untuk menonton film amat besar. Saya ingat-ingat lagi, ternyata sudah lama sekali saya tak menonton. Mulanya, saya tertarik mencari film Berbagi Suami, tetapi pada rental itu tak ada. Gairah menonton tetap ada. Sampul film 9 Naga memberhentikan mata saya dan ingatlah saya pada kalimat pesan pendek Dony. Akhirnya saya memutuskan membayar sewa film untuk satu hari.
*
Setelah nasi goreng habis, dengan sisa ikan asin yang masih banyak saya mulai membereskan perkakas makan dan menyiapkan kopi susu panas. Bekal menonton pikir saya. Saya menonton hanya ditemani oleh nafas lembut kawan kos yang tertidur di kasur.
*
Film ini bercerita mengenai pilihan memandang hidup. Seorang pria bernama Marwan menjadi tokoh utama. Marwan memiliki seorang anak bernama Damar dan seorang istri yang lumpuh kakinya bernama Ajeng. Marwan memiliki dua orang kawan dekat, Doni dan Leni. Mereka bertiga saling menganggap saudara.
*
Marwan adalah pembunuh bayaran. Bersama dua orang kawannya itu Marwan mengerjakan order demi order. Pada suatu titik waktu, kedua sahabatnya masing-masing mulai mengalami pertentangan batin. Ingin perhentian dan kembali pulang pada diri. Menjadi orang biasa yang hidup dari pekerjaan biasa juga. Ajeng sendiri tak pernah sreg dengan pekerjaan Marwan. Hidup memang keras dan titik balik pun sulit didapat ketika kesulitan menghimpit. Kota besar minim janji akan penghidupan yang layak bagi orang dengan pekerjaan biasa. Mereka pun melakukan pekerjaan tak biasa itu. Namun konflik batin Marwan pada akhirnya muncul juga.
*
Seperti hari-hari biasanya mereka bertiga berangkat untuk menyelesaikan order. Ternyata itu adalah order terakhir yang menjadi titik balik. Seting pembunuhan ada pada sebuah restoran. Target yang dibunuh dua orang. Satu orang berhasil dibunuh. Sisa satu orang dan kondisi riuh rendah. Suatu saat, Marwan dituntut mengambil keputusan cepat dan menarik pelatuk pistol. Ternyata yang ia tembak tepat pada sasaran adalah Doni Doni mati ironik.
*
Alur film lalu naik turun lagi dan tiba pada akhir yang amat menampar saya. Ajeng membaca surat terakhir Marwan yang berbunyi demikian,
*

istriku ajeng, manusia terkuat yang pernah kukenal,
*
terimakasih untuk rumah terindah yang pernah kutempati,
terimakasih untuk memberi maaf sebelum aku meminta,
terimakasih untuk bersabar sampai aku tahu kalau hal-hal terbaik dalam hidup tidak memerlukan uang, seperti bunyi suaramu yang selalu setia menuntunku pulang ke hatimu, rumahku yang terindah.
*
suamimu, marwan
*
Marwan mati ditembak oleh sindikat yang mempekerjakannya. Ia mati dengan sebuah kesadaran ke mana hatinya rindu untuk pulang.
*
Pagi ini, tinggal saya yang merenungi tak habis-habisnya tentang pulang.
10 February 2007
1:03 AM
Tepat pada hari lahir bapak.

2.2.07

lucu,
saat dingin luar biasa mengganggu tidur saya malam tadi
tiba-tiba terdengar petikan gitar,
lagu yang dimainkan sungguh tak asing,
lama terdiam sembari menyimak,
...
ah, rupanya internasionale!
...
saya lalu menyibak tirai dan melongok jendela,
rupanya seorang laki-laki entah bernama siapa
duduk saja sendiri sambil memetik gitar dan bernyanyi
...
sementara saya berbalut selimut dan berkaus kaki,
dia hanya memakai kaos dan celana pendek
duduk di balkon kosan dan kedinginan.
lucu.